Jeff & Glory ( true name, asal Filipina) pertama kali bertemu di China tahun 2002. Hubungan mereka enggak diawali dengan "cinta pada pandangan pertama", tapi lebih ke arah kekaguman. Tapi, Glory agak ragu untuk deket-deket Jeff, karena dia kesini untuk belajar, bukan pacaran. Glory dikirim ke China dalam rangka Program Beasiswa. Lambat laun mereka jadi tambah dekat, tapi tetap enggak ada ke arah roman-roman gitu.
Setelah beberapa waktu lamanya, teman-teman mereka mulai curiga. Baik anak-anak Filipina maupun anak-anak Indo-termasuk saya, hahaha. Ada apa sih di antara mereka berdua? Sebagai pihak cewe, Glory enggak berani mikir macem-macem, sekalipun sebenarnya dia juga bingung, kenapa Jeff ini baik sekali padanya, tapi karena Jeff enggak pernah ngomong ke arah situ, ya Glory diam saja. So, akhirnya semua, termasuk Glory hanya bisa menunggu langkah apa yang akan diambil oleh Jeff.
Dua tahun berlalu, en Jeff tetap tidak mengambil langkah apapun. Akhirnya, Glory berdoa en bilang sama Tuhan bahwa ia memberi waktu buat Jeff selama dua tahun. Kalau selama dua tahun itu Jeff enggak maju, goodbye! Tapi, ternyata, menunggu selama dua tahun itu bukan hal yang mudah. Sekalipun Glory bener-bener rela untuk melakukan itu tetap saja ada air mata yang dicurahkan. Banyak mixed feelings yang terjadi, perasaan dongkol, bingung, etc etc. Apalagi sejak ia kembali ke Filipina, banyak teman yang ingin menjodohkan dia dengan cowo lain. Wah, bingung...
Mei 2004, Glory kembali ke Filipina karena akan mulai mengajar di bulan Juni 2004. Beberapa waktu kemudian, Glory dikabari bahwa Natal 2004 ia diberi kesempatan untuk mengikuti seminar di kota tempat Jeff tinggal di China selama dua minggu. Woww!! Glory sempat bertanya-tanya, "Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Tuhan mengijinkan kita untuk bertemu lagi ... "
Ketika ia menghubungi Jeff, ternyata waktunya pas sekali karena kedua orang tua Jeff juga sedang berkunjung ke China. Singkat cerita, Glory melewatkan Christmas dinner bersama Jeff, kedua orang tua Jeff, dan saudara-saudara Jeff. Dua minggu berlalu, Glory udah harus ke Filipina dan Jeff tetap enggak mengatakan apa-apa! Semua teman Glory sebel, "Apa maunya cowo itu sih?" Perasaan Glory pun campur aduk, tapi ia berusaha untuk bersabar.
April 2005, lagi-lagi Glory diberi kesempatan untuk membawa serombongan siswa Filipina mengikuti program study tour selama 8 minggu di kota tempat Jeff tinggal. Delapan minggu berlalu dan ... Jeff tetap enggak mengatakan apapun! Hal ini benar-benar membuat Glory merasa frustasi. Ia kerap menjadi begitu enggak sabar. Glory dan Jeff tetap berhubungan dan ini membuat Glory merasa senang, tapi juga sebel, bingung, tertekan. Ia berpikir bahwa masa menanti selama 2 tahun udah hampir habis.
Suatu kali, Glory membagi rasa frustasinya kepada seorang sahabat melalui telepon. Sahabatnya yang juga seorang anak Tuhan meminta Glory untuk berhenti menunggu dan melepaskan Jeff. Akhirnya, pada Januari 2006, Glory memutuskan untuk mengakhiri semua itu. Glory benar-benar menyerahkan hal ini kepada Tuhan, dan dia menangis di telepon...
Saat itu 15 Februari 2006, Glory mendapat kabar bahwa ia akan membawa kembali rombongan siswa Filipina untuk belajar bahasa Mandarin di kota Jeff. Kali ini Glory bahkan ditempatkan di Universitas yang dekat sekali dengan apartemen Jeff!! Waktu itu Glory sebel setengah mati. Tapi, ia enggak tahu bahwa Tuhan menyiapkan kejutan khusus untuknya.
Tepat keesokan harinya, 16 Februari 2006, ketika Glory sedang sibuk mengerjakan panduan mengajar, mamanya datang dan menunjukkan sepucuk surat kilat khusus dari China. Sepucuk surat dari Jeff. Tapi anehnya suratnya ditujukan kepada Mama Glory dan bukan kepada Glory.
Glory pun memberikan surat itu kepada mamanya. Mama Glory membaca surat itu. Dan, enggak lama, mamanya kembali lagi dan memberikan sepucuk surat kepada Glory sambil tersenyum. Kali ini surat itu ditujukan kepada Glory. Tapi Glory berpikir, "Aku simpen dulu deh. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Lagi sibuk neh."
Beberapa waktu kemudian, mamanya tanya lagi, apakah Glory udah baca surat itu. Hmm, Glory merasa ada sesuatu yang aneh. Enggak biasanya mamanya seperti itu. Akhirnya Glory membuka surat itu sambil bergumul. Jantungnya deg-deg an. "Aku kan udah melepaskan dia," batin Glory. Isi suratnya sederhana, ya.. akhirnya Jeff menyatakan perasaannya!! Fiuhh... Akhirnya Jeff berani juga mengutarakan perasaannya. Lewat surat itu Jeff menanyakan kesediaan Glory untuk menjadi pacarnya.
Masih ingat surat yang ditujukan kepada mama Glory? Ketika surat itu dibuka, ternyata di dalamnya ada 2 buah surat. Yang satu ditujukan kepada mama Glory, yang satu lagi kepada Glory. Di dalam surat yang ditujukan untuk mama Glory Jeff menceritakan perasaannya kepada Glory dan meminta izin kepadanya untuk menjalin hubungan dengan Glory.
Ini baru gentleman!! Jeff cerita bahwa ketika ia memutuskan untuk nembak Glory lewat surat dan mulai nulis surat untuk Glory, rasanya macet. Terus, Tuhan mengingatkan dia untuk menuliskan surat terlebih dahulu kepada kedua orang tua Glory dan menyatakan maksudnya untuk memulai suatu hubungan dengan Glory. Setelah surat kepada mama Glory selesai ditulis, Jeff bermaksud menyelesaikan suratnya pada Glory. Eh, tetap macet. Tuhan kembali mengingatkan Jeff untuk menelepon orang tuanya terlebih dahulu, menanyakan pendapat mereka kalau Jeff jadian sama Glory, apakah mereka setuju. Jeff langsung menelepon orang tuanya dan mereka setuju. Setelah itu, baru deh surat untuk Glory bisa ditulis dengan lancar.
Guys, saat ini, mereka berdua udah jadian menjalin hubungan dan Glory sekarang udah mendapat tempat kerja di kota Jeff. Bulan Desember 2007 mereka telah menikah di Filipina. Ketika saya mendengar cerita mereka, saya terkagum-kagum. Ternyata Tuhan masih menulis sebuah cerita cinta buat anak-anakNya. Dan bukan sembarangan cerita cinta, bukan cerita cinta murahan kayak sinetron. Tapi cerita cinta yang benar-benar romantis... God's written love story.
Girls, ketika nulis ini saya masih jomblo, hehehehe.. masih tetap menunggu my God's witten love story. Saya belajar banyak dari kesetiaan dan kesabaran Glory selama masa menanti Jeff. Cerita mereka benar-benar menguatkan saya untuk tetap beriman dan percaya bahwa kalau Tuhan menginginkan saya menikah, Dia yang akan mempertemukan saya dengan orang yang tepat pada waktuNya dan dengan caraNya. Just believe in Him :)
rewritten by Sitoradostdaram
Dikutip dari buku Grace Suryani- Tuhan mengapa aku harus ke China-

No comments:
Post a Comment